SOBOnDESO News

Petilasan Ki Ageng Mangir Wanabaya

Konon cerita, Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah seorang penguasa sebuah daerah perdikan di tanah Jawa yang bernama Mangir. Di saat yang bersamaan, Ki Ageng Pamanahan - Sutowijaya berhasil menaklukkan sepenuhnya Kerajaan Pajang dan mendirikan kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kota Gede (Sekarang Yogyakarta) dengan menobatkan anaknya Panembahan Senopati menjadi Raja (1575-1601).






Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Yang pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir.

Setelah wafat jenazah Ki Ageng Mangir disemayamkan di Makam Raja-Raja Kotagede dan hingga saat ini masih dikunjungi para peziarah. Secara fisik, separuh nisannya berada di dalam tembok makam raja, sedangkan separuhnya lagi berada di luar. Hal itu terjadi karena di satu sisi ia menantu Panembahan Senopati dan di sisi lain menjadi musuh besar kerajaan.

Sedangkan Petilasan Ki Ageng Mangir ini masih bisa dijumpai di Dusun Mangir Tengah, Sendangsari, Pajangan, Bantul dengan menempati lahan seluas 7.000 meter persegi yang sudah dipagari secara swadaya oleh warga bernama Suwandoyo.

Di area situs petilasan ini dikumpulkan beberapa benda terkait petilasan peninggalan Ki Ageng Mangir, di antaranya dhampar (singgasana), umpak, lingga yoni, dan arca nandi.





13 comments:

  1. wah ini blognya juga ada sejarah juga :O

    ReplyDelete
  2. yupss semuanya dieksplor di DOBOnDESO...

    ReplyDelete
  3. bukannya sutowijoyo itu putranya pamanahan. hati2 ngomong sejarah, karena sejarah ditulis para pemenang. jangan ikut menyebar kebohongan dan mitos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok marah-marah, Anda saudaranya Sutowijoyo ya kok nyolot gitu. Ini blog mas, baca aja nggak usah nyolot. Kalau nggak sesuai ya sampaikan baik-baik.

      Delete
  4. maturnuwun koreksinya,,, silakan mencari referensi cerita yg lbh benar dan komplit.. semoga bisa dibagi di sini, nuwun

    ReplyDelete
  5. jangan keburu emosi baca cerna baik2 cari ilmu berbekal kesabaran

    ReplyDelete
  6. yups mari belajar bersama-sama smoga bermanfaat.. maaf kalo mash banyak kekurangan dlm menulis

    ReplyDelete
  7. Sebelumnya sya ingin mengucapkan byk trimaksih yg sebesar-besar'ya kpd mas Jo, yg tlah mengangkat cerita Ki Ageng Mangir n daerah2 yg ada di skitar dusun Mangir, smoga dgn blog ini dusun Mangir tdk terisolir lgi di krenakan lokasi'y yg ckup jauh n terpencil dri Kota Yogya. Smoga dgn blog ini juga mari qt bersama-sama belajar n bertukar pikiran, utk mengangkat sejarah2 yg ada di Indonesia...n yg tdk kalah penting'ya qt juga bisa mencari pertemanan dan menjalin silaturahmi. Salam dari kami warga Mangir...yg ada di Jakarta.

    ReplyDelete
  8. benar mas, bahwa anak ki ageng Pemanahan itu Sutowijoyo atau Danang Sutowijoyo. Setelah menjadi raja di Mataram bergelar Ingkang Sinuwun Panembahan Senopati ing Alogo Sayidina Panotogomo yang kemudian sering disebut Panembahan Senopati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. maturnuwun kunjungannya, maaf kl masih banyak kekurangannya.

      Delete
  9. Artikel yang menarik,blogku barangkali bisa lebih melengkapi fakta fakta baru tentang Ki Ageng Mangir dan Pembayun, jangan lupa kunjungi juga blog aku dengan thema yang sama http://pembayun-mangir.blogspot.com/

    ReplyDelete
  10. Menarik, dan bagus, kunjungi juga blogku ya Sekar Kedaton Pembayun adalah seorang wanita yang cekatan, cerdik dan berfikiran jauh kedepan. Ia adalah anak sulung dan anak kesayangan Panembahan Senopati. Fakta bahwa dia dikirim ke kakeknya Ki Penjawi di Pati, paska terbunuhnya Ki Ageng Mangir, adalah usaha ki Mondoroko dan Panembahan Senopati untuk meredam kepedihan hati putrinya. Kelak ia melahirkan seorang pahlawan bernama Bagus Wanabaya yang menjadi Murid kesayangan Pangeran Benawa di Kendal lalu di kemudian hari berjuang melawan VOC Belanda membantu Sultan Agung. Paska perang VOC dan Mataram di Jepara, pada tahun 1619 Putri Pembayun bersama rombongan veteran perang Jepara hijrah ke Kebayunan, Tapos, Depok dan atas inisiatif Ki Jepra sebagai tetua keturunan Pajajaran rombongan bisa bertemu dengan Pangeran Jayakarta di Jatinegara sesudah Pangeran Jayakarta gagal mempertahankan Sunda kelapa dari serbuan Yaan Pieters Zoen Coen. Kemampuan intelektual dan kecakapan bertindak Putri Pembayun sebagai petugas intelejen sangat mendukung data sejarah tersebut. Boleh dikata Putri Pembayun adalah salah satu pahlawan wanita tokoh sejarah lintas nasional, bukan sekedar lokal Jawa Tengah, Mataram atau Bantul saja. http://panyutro.blogspot.com/2013/01/ki-ageng-mangir-panembahan-senopati.html

    ReplyDelete

Termakasih telah berkunjung.... sobondeso.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis, komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator. Bila ada komentar yang menurut kami tidak sesuai maupun spam admin berhak untuk menghapusnya.